Judul Buku : Menciptakan Masyarakat Kota (Malang di bawah Tiga Penguasa 1914-1950)
Penulis : R. Reza Hudiyanto
Penerbit: Lilin
Tebal : XVIII + 265 halaman
Cetakan : Pertama, September 2011
ISBN : 978-602-97511-5-4
Sebuah karya yang ditelurkan Reza
Hudiyanto dalam bukunya yang berjudul “Menciptakan Masyarakat Kota (Malang di
bawah Tiga Penguasa 1914-1950)” merupakan salah satu karya monumental yang
patut di apresiasi. Penulis sejak awal telah memfokuskan tulisan-tulisannya
untuk berpijak pada kehidupan masyarakat kota yang mana telah dirintis sejak
S1. Dari sinilah penulis mengembangkan hasil skripsinya yang kemudian berlanjut
pada tesis dan disertasinya. Tak ayal, kajian yang dilakukan tentunya melalui
periode yang tak singkat dan dapat diverifikasi serta dipertanggungjawabkan. Hasil
disertasi yang kemudian menjadi buku ini memuat dinamika hubungan Pemerintah
kota Malang dan masyarakat bumi putera pada khususnya, dan mengetahui sejarah
perkembangan kota pada umumnya. Malang pada tahun 1914-1930 mengalami fase
kejadian yang penting bagi modernisasi dan komersialisasi di sebagian besar
lapisan kota.
Penulis dalam buku ini mengambil
batasan spasial di kota Malang karena pada masa kolonial, penduduk Eropa dari
seluruh Karesidenan di Jawa lebih banyak bertempat tinggal di Malang. Malang
yang dalam perjalanannya selain menjadi kawasan perdagangan, juga mengalami
pembangunan yang pesat yaitu menjadi tempat peristirahatan bagi kaum Eropa.
Keberadaan orang-orang Eropa telah memberikan sumbangsih yang besar bagi
modernisasi di Malang, salah satunya di bidang infrastruktur, industri dan
aktivitas yang bedampak pada perubahan sosial. Gaya penulisan yang khas
dibawakan penulis, memudahkan para pembaca untuk memahami isi kalimat yang
dimaksud. Namun karena buku ini merupakan hasil disertasi, buku ini kurang bisa
diterima oleh masyarakat awam yang tidak mengenal istilah-istilah atau
pembendaharaan kata secara luas sehingga akan sedikit menyulitkan pembaca untuk
memahami kandungan isi buku.
Penulis dalam buku ini menguraikan
secara jelas tentang perkembangan dan wajah kota Malang dari waktu ke waktu.
Penelitian tentang sejarah masyarakat kota ini menggunakan basis pendekatan
sosisologi. Di setiap bab, penulis menyentuh bagian-bagian tertentu mengenai
Malang yang belum banyak dibahas di penelitian-penelitian yang lain. Adapun di
bab 1, penulis memaparkan tahap-tahap perkembangan kota-kota di Indonesia yang
melalui empat fase dan memfokuskan pada interaksi antar masyarakat kota dengan
penguasa yang berfungsi sebagai pembuat kebijakan.
Pada bab 2 penulis menjabarkan kota
Malang dalam satu abad (1800-1900) yang isinya berupa bagaimana bermulanya perkembangan
kota Malang pada abad ke XIX. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan
terjadinya mobilitas penduduk turut menambah kepadatan kota Malang dari waktu
ke waktu. Dalam bab ini juga dijelaskan bagimana sarana dan prasarana di kota
Malang dibangun oleh pemerintah kolonial. Bangunan-bangunan permanen yang dibangun
rata-rata berfungsi sebagai tempat atau ruang publik. Jalan dan jembatan pada
masa ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena merupakan penghubung
mobilisasi dengan dunia luar.
Pembangunan Kereta Api dan
pembenaran (pengaspalan) jalan dilakukan pemerintah pada tahun 1925. Setelah
terpenuhi jalan tol dan kereta api, perkembangan Malang menjadi pesat yang mana
mengharuskan kota ini membangun infrastruktur yang memadai guna menyeimbangkan
kebutuhan suatu kota termasuk di bidang ekonomi. Adapun infrastruktur yang
dibangun berupa rumah sakit, sekolah, pusat perdagangan serta sistem
transportasi kota yang baik[1].
Pada tahun 1920, Malang berkembang
menjadi pusat hiburan pendidikan dan industri. Di bab 3 penulis menjelaskan
kebijakan-kebijakan sistem pemerintahan pada masa kolonial Belanda. Struktur
pemerintahan lokal Malang pada tahun 1914 dipegang kendali oleh Burgermeester. Burgermeester maupun gemeenteraad didominasi warga Eropa
sehingga menyebabkan adanya kesenjangan antara kepentingan warga Eropa dengan
kaum pribumi dikota Malang. Kebijakan yang dikeluarkan gementee antara lain membatasi jam berjualan, adanya kenaikan pajak
terus-menerus, penertiban pendirian warung dan penertiban terhadap para tukang
lotere. Di bab ini penulis juga menguraikan kebijakan-kebijakan yang diterapkan
pada masa Jepang hingga pemerintahan Recomba.
Di bab berikutnya penulis
memfokuskan kajian pada perkembangan ruang kota malang dari waktu ke waktu.
Sejak dijadikan wilayah Gementee,
kota Malang termasuk wilayah yang terurus dengan baik dari segi perencanaan
maupun arsitekturnya. Proses pembangunan pada masa ini dilakukan oleh dinas
pekerjaan umum yang mana kebanyakan dari orang-orang dinas tersebut berfokus
pada permasalahan bangunan seperti perluasan kota. Tanggung jawab dari
pekerjaan ini berada dibawah naungan Gementee.[2]
Setelah abad XX, Malang terus bertranformasi dan mengalami kemajuan yang cukup
signifikan di bidang ekonomi, militer, permukiman, pemerintahan, pendidikan,
serta hiburan.
Wajah Malang yang bermula dari desa
menjadi kota mengalami proses yang cukup panjang. Pada bab 5 ini penulis
menjelaskan bagaimana reaksi masyarakat dalam menghadapi dinamika yang terjadi
di sekitarnya. Penghapusan desa yang dilakukan demi tercapainya kepentingan
kaum Eropa tentunya menarik perhatian pro-kontra. Munculnya banyak penyimpangan
berupa perjudian, prostitusi dan pencuri turut menghiasi tulisan dalam buku
ini. Hal ini terjadi karena banyaknya masyarakat urban yang datang ke Malang
sekitar tahun 1920an.[3] Di
bagian akhir dari buku ini penulis menukilkan kisah tentang perjuangan politik
bumiputra sekaligus menganalisis peran dan penyebab munculnya golongan elite
baru yang menjadi kekuatan penyeimbang terhadap pemerintah kolonial.
Dibandingkan dengan buku Malang
tempoe Doeloe,[4]
buku karya Reza ini lebih terinci dan terstruktur dalam uraian penulisannya.
Buku Malang Tempoe Doeloe memiliki daya pikat yang cukup baik dalam penulisan
kehidupan masyarakat Malang dari segi bahasa, busana, kesenian hingga buruh
industri cetak. Namun yang disayangkan isi dari buku ini ditulis dari penulis
yang berbeda sehingga fokus utama dari penulisan buku Malang Tempoe Doeloe ini
kurang jelas. Dalam konteks kekinian, buku Malang Tempoe Doeloe tak kalah
menarik dengan gaya penulisan yang dibawa oleh Reza Hudiyanto (penulis Menciptakan
Masyarakat Kota: Malang di Bawah Tiga Penguasa 1914 – 1950) karena kajian yang
dibawakan subtansinya sama mengenai kota Malang, meskipun di bagian selanjutnya
terdapat fokus pembahasan yang berbeda.
[1]
Baskara,
Medha. 2010. Kota Malang - Kota Taman Specifiek Indonesische. Jurnal
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
[2] Ir. Handinoto, Ir. Paulus H. Soehargo, M. Arch., Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial
Belanda di Malang, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1996), hlm. 155.
[3] Hudianto, R. Reza. 2012. Menciptakan Masyarakat
Kota: Malang di Bawah Tiga Penguasa 1914 – 1950. Yogyakarta: Penerbit
Lilin. Hlm. 140-157.