Jumat, 09 Maret 2018

REVIEW BUKU

 
Judul Buku : Menciptakan Masyarakat Kota (Malang di bawah Tiga Penguasa 1914-1950)
Penulis : R. Reza Hudiyanto
Penerbit: Lilin
Tebal : XVIII + 265 halaman
Cetakan : Pertama, September 2011
ISBN : 978-602-97511-5-4

            Sebuah karya yang ditelurkan Reza Hudiyanto dalam bukunya yang berjudul “Menciptakan Masyarakat Kota (Malang di bawah Tiga Penguasa 1914-1950)” merupakan salah satu karya monumental yang patut di apresiasi. Penulis sejak awal telah memfokuskan tulisan-tulisannya untuk berpijak pada kehidupan masyarakat kota yang mana telah dirintis sejak S1. Dari sinilah penulis mengembangkan hasil skripsinya yang kemudian berlanjut pada tesis dan disertasinya. Tak ayal, kajian yang dilakukan tentunya melalui periode yang tak singkat dan dapat diverifikasi serta dipertanggungjawabkan. Hasil disertasi yang kemudian menjadi buku ini memuat dinamika hubungan Pemerintah kota Malang dan masyarakat bumi putera pada khususnya, dan mengetahui sejarah perkembangan kota pada umumnya. Malang pada tahun 1914-1930 mengalami fase kejadian yang penting bagi modernisasi dan komersialisasi di sebagian besar lapisan kota.
            Penulis dalam buku ini mengambil batasan spasial di kota Malang karena pada masa kolonial, penduduk Eropa dari seluruh Karesidenan di Jawa lebih banyak bertempat tinggal di Malang. Malang yang dalam perjalanannya selain menjadi kawasan perdagangan, juga mengalami pembangunan yang pesat yaitu menjadi tempat peristirahatan bagi kaum Eropa. Keberadaan orang-orang Eropa telah memberikan sumbangsih yang besar bagi modernisasi di Malang, salah satunya di bidang infrastruktur, industri dan aktivitas yang bedampak pada perubahan sosial. Gaya penulisan yang khas dibawakan penulis, memudahkan para pembaca untuk memahami isi kalimat yang dimaksud. Namun karena buku ini merupakan hasil disertasi, buku ini kurang bisa diterima oleh masyarakat awam yang tidak mengenal istilah-istilah atau pembendaharaan kata secara luas sehingga akan sedikit menyulitkan pembaca untuk memahami kandungan isi buku.
            Penulis dalam buku ini menguraikan secara jelas tentang perkembangan dan wajah kota Malang dari waktu ke waktu. Penelitian tentang sejarah masyarakat kota ini menggunakan basis pendekatan sosisologi. Di setiap bab, penulis menyentuh bagian-bagian tertentu mengenai Malang yang belum banyak dibahas di penelitian-penelitian yang lain. Adapun di bab 1, penulis memaparkan tahap-tahap perkembangan kota-kota di Indonesia yang melalui empat fase dan memfokuskan pada interaksi antar masyarakat kota dengan penguasa yang berfungsi sebagai pembuat kebijakan.
            Pada bab 2 penulis menjabarkan kota Malang dalam satu abad (1800-1900) yang isinya berupa bagaimana bermulanya perkembangan kota Malang pada abad ke XIX. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan terjadinya mobilitas penduduk turut menambah kepadatan kota Malang dari waktu ke waktu. Dalam bab ini juga dijelaskan bagimana sarana dan prasarana di kota Malang dibangun oleh pemerintah kolonial. Bangunan-bangunan permanen yang dibangun rata-rata berfungsi sebagai tempat atau ruang publik. Jalan dan jembatan pada masa ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena merupakan penghubung mobilisasi dengan dunia luar.
            Pembangunan Kereta Api dan pembenaran (pengaspalan) jalan dilakukan pemerintah pada tahun 1925. Setelah terpenuhi jalan tol dan kereta api, perkembangan Malang menjadi pesat yang mana mengharuskan kota ini membangun infrastruktur yang memadai guna menyeimbangkan kebutuhan suatu kota termasuk di bidang ekonomi. Adapun infrastruktur yang dibangun berupa rumah sakit, sekolah, pusat perdagangan serta sistem transportasi kota yang baik[1].
            Pada tahun 1920, Malang berkembang menjadi pusat hiburan pendidikan dan industri. Di bab 3 penulis menjelaskan kebijakan-kebijakan sistem pemerintahan pada masa kolonial Belanda. Struktur pemerintahan lokal Malang pada tahun 1914 dipegang kendali oleh Burgermeester. Burgermeester maupun gemeenteraad didominasi warga Eropa sehingga menyebabkan adanya kesenjangan antara kepentingan warga Eropa dengan kaum pribumi dikota Malang. Kebijakan yang dikeluarkan gementee antara lain membatasi jam berjualan, adanya kenaikan pajak terus-menerus, penertiban pendirian warung dan penertiban terhadap para tukang lotere. Di bab ini penulis juga menguraikan kebijakan-kebijakan yang diterapkan pada masa Jepang hingga pemerintahan Recomba.
            Di bab berikutnya penulis memfokuskan kajian pada perkembangan ruang kota malang dari waktu ke waktu. Sejak dijadikan wilayah Gementee, kota Malang termasuk wilayah yang terurus dengan baik dari segi perencanaan maupun arsitekturnya. Proses pembangunan pada masa ini dilakukan oleh dinas pekerjaan umum yang mana kebanyakan dari orang-orang dinas tersebut berfokus pada permasalahan bangunan seperti perluasan kota. Tanggung jawab dari pekerjaan ini berada dibawah naungan Gementee.[2] Setelah abad XX, Malang terus bertranformasi dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan di bidang ekonomi, militer, permukiman, pemerintahan, pendidikan, serta hiburan.
            Wajah Malang yang bermula dari desa menjadi kota mengalami proses yang cukup panjang. Pada bab 5 ini penulis menjelaskan bagaimana reaksi masyarakat dalam menghadapi dinamika yang terjadi di sekitarnya. Penghapusan desa yang dilakukan demi tercapainya kepentingan kaum Eropa tentunya menarik perhatian pro-kontra. Munculnya banyak penyimpangan berupa perjudian, prostitusi dan pencuri turut menghiasi tulisan dalam buku ini. Hal ini terjadi karena banyaknya masyarakat urban yang datang ke Malang sekitar tahun 1920an.[3] Di bagian akhir dari buku ini penulis menukilkan kisah tentang perjuangan politik bumiputra sekaligus menganalisis peran dan penyebab munculnya golongan elite baru yang menjadi kekuatan penyeimbang terhadap pemerintah kolonial.
            Dibandingkan dengan buku Malang tempoe Doeloe,[4] buku karya Reza ini lebih terinci dan terstruktur dalam uraian penulisannya. Buku Malang Tempoe Doeloe memiliki daya pikat yang cukup baik dalam penulisan kehidupan masyarakat Malang dari segi bahasa, busana, kesenian hingga buruh industri cetak. Namun yang disayangkan isi dari buku ini ditulis dari penulis yang berbeda sehingga fokus utama dari penulisan buku Malang Tempoe Doeloe ini kurang jelas. Dalam konteks kekinian, buku Malang Tempoe Doeloe tak kalah menarik dengan gaya penulisan yang dibawa oleh Reza Hudiyanto (penulis Menciptakan Masyarakat Kota: Malang di Bawah Tiga Penguasa 1914 – 1950) karena kajian yang dibawakan subtansinya sama mengenai kota Malang, meskipun di bagian selanjutnya terdapat fokus pembahasan yang berbeda.


[1] Baskara, Medha. 2010. Kota Malang - Kota Taman Specifiek Indonesische. Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
[2] Ir. Handinoto, Ir. Paulus H. Soehargo, M. Arch., Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1996), hlm. 155.

[3] Hudianto, R. Reza. 2012. Menciptakan Masyarakat Kota: Malang di Bawah Tiga Penguasa 1914 – 1950. Yogyakarta: Penerbit Lilin. Hlm. 140-157.

[4] Dukut Imam Widodo. Malang Tempoe Doeloe (Malang: Bayumedia Publishing, 2006).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar